>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<
Taman itu.... ini taman kemarin kan?!?!
Tiinn!! Tinn!!
"Marie-chan! Marie-chan!"
Marie menepikan motor yang dikendarainya segera setelah mendengarku memangilnya. Aku ikut menepikan motorku didekat tempat Marie berhenti.
"Taman yang kita lewati tadi... itu taman didekat rumahnya.." ucapku pelan dengan cengiran bersalah.
Entah kenapa aku langsung meneriaki Marie untuk berhenti. Sebenarnya aku tidak enak hati jika mengajak Marie untuk melewati jalan kerumah Yabu *lagi!*. Tapi sepertinya Marie bisa membaca pikiranku, Marie bertanya apakah kami akan berputar?
Tentu saja aku tidak akan melewati kesempatan melewati rumah Yabu ketika Marie mengajak untuk memutar motor kami.
mm.. kenapa jalannya jelek gini ya? jangan-jangan bukan taman ini lagi.
Tidak memberitahukan Marie tentang keraguanku, aku memutuskan untuk tetap mengambil jalan lurus. Berharap akan menemukan tanda-tanda lain menuju rumuh Yabu yang bisa kukenali.
Tidak jauh dari taman pertama tadi, aku kembali melihat taman lain. Taman yang terlihat sama persis dengan taman yang pernah kukunjungi bersama Yabu, juga taman yang mirip dengan taman pertama tadi, hanya memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan taman sebelumnya.
Ups! Salah lagi! Baka! Haduhh kenapa pula taman-taman disini mirip semua sih. Gawat deh nyasar lagi nih. Haduhh hontou ni gomen nasai Marie-chan!!!
Aku segera memberi tanda untuk menepi ke kiri dan menunggu Marie sampai dibelakangku.
"E he... kayakny bukan jalan yang ini deh..."..."gimana jadi? mau muter balik atau terus jalan aja?" sambungku cepat.
"Ya sudah muter balik aja."
Yaaahh mungkin memang bukan takdirnya aku bisa ketemu sama Yabu lagi. Lagian tipe yang Yabu sukai itu beda banget sama diriku. Ngapain juga aku berusaha nyari rumah Yabu, padahal Yabu belum tentu mau ngelakuin yang sama untukku, bikin susah Marie aja nih aku.
"Mau belok nggak?" tanya Marie dari sebelahku tepat sebelum masuk lorong menuju rumah Yabu.
"Yaaaa boleh juga" jawabku dengan cengiran.
Aku langsung ikut berbelok menuju kerumah Yabu. Untung saja dibelakangku tidak terlalu banyak kendaraan lain, sehingga tidak ada yang memberikan klakson mereka kepada sikapku yang tiba-tiba mengambil arah berbelok.
Setelah masuk lorong, sekali lagi aku yang memimpin jalan menuju rumah Yabu,
Hmmm bukan lorong ini deh, oh itu dia, iya pasti lorong yang itu! Persimpangan yang tepat di puncak tanjakan.
Aku membawa motorku seraya terus mengamati rumah-rumah yang berada di sisi kiri-ku.
Bukan. Bukan. Bukan rumah yang ini. Ini dia!!
Pintu rumah dan garasi rumah Yabu terbuka. Tapi aku nggak bisa menemukan keberadaan motor Yabu disana. Yaaa setidaknya aku bisa menemukan rumahnya.
Tidak terlalu jauh dari rumah Yabu, aku kembali menepikan motorku. Marie segera menyusul sambil melihat ke sisi sebelah kanan.
"Ya, rumah Yabu yang mana sih? Yang itu bukan?" tanya Marie menunjuk pagar rumah yang berada disebrang rumah Yabu.
"Bukan Marie, yang itu tuh, yang ada dibelakang Marie."
"Sepertinya aku melihat Yabu di rumah yang itu."
"Nggak lah.. rumahnya yang itu kok Marie."
"Tapi bener deh, kalian kan sering memperlihatkan fotonya, jadi aku hapal wajahnya." jawab Marie yakin.
Penasaran dengan ucapan Marie yang terlihat bersungguh-sungguh, aku membawa motorku mundur sedikit demi sedikit sampai aku bisa melihat punggung seorang cowok yang sedang menyapu dedaunan di taman.
Hmmm wajahnya nggak terlalu kelihatan.
Entah apakah aku memang berharap itu memang Yabu atau aku merasa tidak mungkin itu Yabu. Yang jelas aku hanya ingin memastikan wajah si cowok.
Dan saat itulah si cowok mulai bergeser dan memperlihatkan hampir semua wajahnya menghadapku!
BBBRRRUUUUMMMMM!!!!......>>><<<
mm.. kenapa jalannya jelek gini ya? jangan-jangan bukan taman ini lagi.
Tidak memberitahukan Marie tentang keraguanku, aku memutuskan untuk tetap mengambil jalan lurus. Berharap akan menemukan tanda-tanda lain menuju rumuh Yabu yang bisa kukenali.
Tidak jauh dari taman pertama tadi, aku kembali melihat taman lain. Taman yang terlihat sama persis dengan taman yang pernah kukunjungi bersama Yabu, juga taman yang mirip dengan taman pertama tadi, hanya memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan taman sebelumnya.
Ups! Salah lagi! Baka! Haduhh kenapa pula taman-taman disini mirip semua sih. Gawat deh nyasar lagi nih. Haduhh hontou ni gomen nasai Marie-chan!!!
Aku segera memberi tanda untuk menepi ke kiri dan menunggu Marie sampai dibelakangku.
"E he... kayakny bukan jalan yang ini deh..."..."gimana jadi? mau muter balik atau terus jalan aja?" sambungku cepat.
"Ya sudah muter balik aja."
Yaaahh mungkin memang bukan takdirnya aku bisa ketemu sama Yabu lagi. Lagian tipe yang Yabu sukai itu beda banget sama diriku. Ngapain juga aku berusaha nyari rumah Yabu, padahal Yabu belum tentu mau ngelakuin yang sama untukku, bikin susah Marie aja nih aku.
"Mau belok nggak?" tanya Marie dari sebelahku tepat sebelum masuk lorong menuju rumah Yabu.
"Yaaaa boleh juga" jawabku dengan cengiran.
Aku langsung ikut berbelok menuju kerumah Yabu. Untung saja dibelakangku tidak terlalu banyak kendaraan lain, sehingga tidak ada yang memberikan klakson mereka kepada sikapku yang tiba-tiba mengambil arah berbelok.
Setelah masuk lorong, sekali lagi aku yang memimpin jalan menuju rumah Yabu,
Hmmm bukan lorong ini deh, oh itu dia, iya pasti lorong yang itu! Persimpangan yang tepat di puncak tanjakan.
Aku membawa motorku seraya terus mengamati rumah-rumah yang berada di sisi kiri-ku.
Bukan. Bukan. Bukan rumah yang ini. Ini dia!!
Pintu rumah dan garasi rumah Yabu terbuka. Tapi aku nggak bisa menemukan keberadaan motor Yabu disana. Yaaa setidaknya aku bisa menemukan rumahnya.
Tidak terlalu jauh dari rumah Yabu, aku kembali menepikan motorku. Marie segera menyusul sambil melihat ke sisi sebelah kanan.
"Ya, rumah Yabu yang mana sih? Yang itu bukan?" tanya Marie menunjuk pagar rumah yang berada disebrang rumah Yabu.
"Bukan Marie, yang itu tuh, yang ada dibelakang Marie."
"Sepertinya aku melihat Yabu di rumah yang itu."
"Nggak lah.. rumahnya yang itu kok Marie."
"Tapi bener deh, kalian kan sering memperlihatkan fotonya, jadi aku hapal wajahnya." jawab Marie yakin.
Penasaran dengan ucapan Marie yang terlihat bersungguh-sungguh, aku membawa motorku mundur sedikit demi sedikit sampai aku bisa melihat punggung seorang cowok yang sedang menyapu dedaunan di taman.
Hmmm wajahnya nggak terlalu kelihatan.
Entah apakah aku memang berharap itu memang Yabu atau aku merasa tidak mungkin itu Yabu. Yang jelas aku hanya ingin memastikan wajah si cowok.
Dan saat itulah si cowok mulai bergeser dan memperlihatkan hampir semua wajahnya menghadapku!
BBBRRRUUUUMMMMM!!!!......>>><<<